RINDU DI KEJAUHAN
Di
kala senja datang menghampiri. Cahaya redup lampu jalanan itu yang menemani. Melewati
jalan setapak menyusuri gang menuju istana. Teringat akan bayang-bayang
kerinduan. Kasih sayangnya begitu mendalam. Jika mengingatnya pun, hati terasa
tercambuk-cambuk.
Duniaku
diselimuti awan kegelapan. Berharap ada lentera yang mau menerangi. Orang tuaku
bercerai. Bencana besar menimpa keluargaku. Adik yang menjadi putri raja di
istana kini sedang terbaring lemas. Kecelakaan besar menghampirinya. Matanya
yang biasa memancarkan pelangi, kini digantikan oleh tetesan air mata. Tingkah
kelucuannya pun musnah. Bagai diterpa angin topan. Maaf, aku tak dapat berkutik.
Hanya kenangan indah dariku yang menemanimu. Aku akan pergi jauh.
Tak
ada kawan. Tak ada sahabat. Tak ada kasih sayang seorang Ibu. Malam ini ku di
temani cahaya bulan purnama. Duduk termenung di teras. Membawa secangkir kopi
hangat. Ku pegang pena dan secarik kertas. Ada sesuatu yang mengusik pikiranku.
Ku coba melukiskan kata-kata itu. Namun hanya kata Rindu yang dapat terungkap
dari hati ini. Rindu tatapan hangat seorang Ibu.
13 September 2019







0 komentar:
Posting Komentar