KEPERGIAN NENEK
Dingin malam ini membuat pori-pori
bergetar. Ku duduk di sofa ruang tamu dengan nenek. Ketika tangan ini
menggenggam secuil roti, nenek pun menginginkannya. Namun mustahil jika
seseorang meminta sesuatu dariku.
Pagi hari terdengar suara kicauan
burung merdu. Hari ini nenek jatuh sakit. Aku diminta untuk menjaganya. Namun
ku pergi meninggalkannya untuk mengayuh pedal keliling desa. Kubiarkan ibu yang merawatnya. Siang hari terik
matahari begitu menusuk kulit. Aku pulang dengan perasaan yang aneh, seperti
akan ada api yang melahap rumahku.
Sore hari, sakit nenek bertambah parah
dan dilarikan ke Rumah Sakit. Aku ditinggal sendiri untuk menjaga rumah. Pukul
2 pagi kudengar seseorang mengetuk pintu. Ketika kubuka, ternyata paman memberi
kabar dari ibu. “Nenek sudah tiada nak”, ucapnya. Tanpa sengaja air mata ini
mengalir deras. Tak disangka nenek pergi begitu cepat. Aku bahkan belum sempat
meminta maaf atas perlakuanku padanya selama ini. Bahkan pantaskah diriku disebut
sebagai seorang cucu?
13 September 2019







0 komentar:
Posting Komentar